Mata uang Iran melemah, apa bedanya rial dan toman?

Jakarta (ANTARA) - Mata uang Iran belakangan menjadi sorotan dunia seiring memanasnya tensi geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan langkah tegas dengan memberlakukan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara yang masih menjalin kerja sama bisnis dengan Iran. Kebijakan ini memicu ber...
Jakarta (ANTARA) - Mata uang Iran belakangan menjadi sorotan dunia seiring memanasnya tensi geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan langkah tegas dengan memberlakukan tarif hingga 25 persen terhadap negara-negara yang masih menjalin kerja sama bisnis dengan Iran.
Kebijakan ini memicu berbagai reaksi, terutama pada kondisi ekonomi Iran, termasuk melemahnya nilai tukar mata uang nasionalnya. Dalam catatan terbaru, nilai tukar mata uang Iran, yaitu rial, bahkan sempat disebut menyentuh level terendah jika dikonversikan ke euro. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan berat yang dialami perekonomian Iran akibat sanksi dan inflasi berkepanjangan.
Namun menariknya, jika Anda berkunjung langsung ke pasar tradisional atau menyusuri pusat perbelanjaan di Iran, istilah “rial” nyaris tak terdengar dalam percakapan transaksi sehari-hari. Masyarakat setempat justru lebih akrab menggunakan sebutan “toman” saat menyebut harga barang atau jasa.
Fenomena ini tidak terlepas dari tingkat inflasi yang sangat tinggi. Untuk mempermudah penyebutan harga dan menghindari angka yang terlalu besar, Iran menerapkan sistem hitung alternatif berupa toman.