Milisi Pro-Iran Acak-Acak Negara Muslim Kaya Minyak Ini, Arab Emosi

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan diplomatik di kawasan Timur Tengah kini berada di ujung tanduk setelah serangkaian serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang diluncurkan dari wilayah Irak menyasar negara-negara Teluk. Eskalasi ini memicu kemarahan besar dari negara-negara tetangga Arab yang mulai kehilangan kesabaran terhadap ketidakmampuan...
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan diplomatik di kawasan Timur Tengah kini berada di ujung tanduk setelah serangkaian serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang diluncurkan dari wilayah Irak menyasar negara-negara Teluk. Eskalasi ini memicu kemarahan besar dari negara-negara tetangga Arab yang mulai kehilangan kesabaran terhadap ketidakmampuan Baghdad dalam menertibkan milisi pro-Iran di tanah mereka sendiri.
Mengutip Arab News, ketegangan ini memuncak setelah perwakilan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Irak berkumpul di Irbil pada Rabu, (26/03/2026). Pertemuan tersebut merupakan rapat perdana Komite Koordinasi Tinggi Bersama AS-Irak yang baru, yang dibentuk atas desakan Washington sebagai upaya untuk menjaga Irak agar tetap berada di luar konflik regional yang tengah berlangsung.
Sehari setelah pertemuan tersebut, tepatnya pada Kamis, Kedutaan Besar AS di Baghdad mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa kedua belah pihak telah memutuskan untuk mengintensifkan kerja sama. Langkah ini diambil guna mencegah serangan teroris dan memastikan wilayah Irak tidak digunakan sebagai titik peluncuran agresi apa pun terhadap rakyat Irak, pasukan keamanan Irak, personel AS, maupun negara-negara tetangga dan regional.
Namun, sejumlah luka lama masih menjadi persoalan besar dalam kesepakatan ini. Sebelumnya, pada 14 Maret 2026, sebuah serangan udara menghantam sebuah rumah di Distrik Karrada, Baghdad, yang diduga dilakukan oleh AS dalam upaya gagal untuk membunuh Ahmad Al-Hamidawi. Al-Hamidawi merupakan pemimpin Kataib Hizballah, sebuah milisi kuat Irak yang didukung oleh Iran.