Perang Iran Bawa Petaka Minyak, Mobil Listrik Pesta Pora

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak luas ke sektor energi global. Lonjakan harga energi akibat gangguan pasokan ikut mendorong permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di berbagai negara. Kenaikan harga bensin dan solar membuat biaya operasional kendaraan konvensional...
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai berdampak luas ke sektor energi global. Lonjakan harga energi akibat gangguan pasokan ikut mendorong permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di berbagai negara.
Kenaikan harga bensin dan solar membuat biaya operasional kendaraan konvensional melonjak, sehingga konsumen beralih ke EV yang dinilai lebih hemat. Dampaknya terlihat dari peningkatan penjualan hingga kenaikan harga EV bekas di sejumlah pasar.
Rosco Jewell, pengusaha asal Sydney yang menjalankan platform Amazing EV, mengaku terjadi perubahan drastis dalam beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya ia hanya menjual satu EV bekas setiap dua bulan, kini penjualan meningkat menjadi satu unit setiap dua minggu.
"Sekarang sangat sulit menemukan EV bekas di kisaran harga US$20.000 hingga US$50.000 (Rp340 juta-Rp850 juta). Kami juga melihat harga naik 10% hingga 15%, bahkan dalam beberapa kasus mencapai 20%," kata Jewell, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (27/4/2026).