Perang AS-Iran di Timur Tengah Bikin China "Bernapas Lega", Kok Bisa?

Jakarta, CNBC Indonesia - Fokus strategi pertahanan Amerika Serikat (AS) kini berada di titik kritis setelah keterlibatan militer di Timur Tengah kembali menguras sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk membendung kekuatan China di Asia-Pasifik. Meski sempat menjanjikan pengalihan kekuatan ke Asia, pecahnya konflik dengan Iran justru memaksa...
Jakarta, CNBC Indonesia - Fokus strategi pertahanan Amerika Serikat (AS) kini berada di titik kritis setelah keterlibatan militer di Timur Tengah kembali menguras sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk membendung kekuatan China di Asia-Pasifik. Meski sempat menjanjikan pengalihan kekuatan ke Asia, pecahnya konflik dengan Iran justru memaksa Washington menarik aset-aset vital dari wilayah Timur Jauh.
Tuntutan perang Iran ini juga menyebabkan Presiden Donald Trump menunda kunjungan resminya yang sangat dinanti-nantikan ke China selama beberapa minggu. Hal ini memperdalam kekhawatiran bahwa AS sekali lagi teralihkan fokusnya dengan mengorbankan kepentingan strategis di Asia, di mana Beijing terus berupaya menggeser posisi AS sebagai pemimpin regional.
Pihak-pihak yang skeptis terhadap keterlibatan AS di Timur Tengah menyatakan bahwa perang tersebut menghalangi Trump untuk mempersiapkan diri secara memadai menghadapi KTT dengan pemimpin China Xi Jinping bulan depan, di saat kepentingan ekonomi sedang dipertaruhkan.
Mereka memperingatkan bahwa kegagalan untuk fokus pada Asia dan mempertahankan pencegahan yang kuat dapat menyebabkan ketidakstabilan yang lebih besar jika China percaya bahwa waktunya telah tiba untuk merebut pulau Taiwan.